Mungkinkah manusia hidup tanpa meyakini sesuatu?...Hidup tanpa keyakinan...misalkan:
yakin akan tujuan hidup...yakin memiliki pasangan hidup...yakin bahwa cita-citanya akan tercapai...
yakin jika semesta ini tidak hanya manusia yang hidup dengan mengandalkan kepandaiannya tetapi ada makhluk lain di luar jagat raya yang memiliki kecerdasan. Atau keyakinan setelah kematian ada kehidupan atau adanya pencipta kehidupan.
Segala sesuatu yang bersumber dari keyakinan tetaplah sebuah keputusan individu yang menyakininya...jika ada orang lain yang memiliki keyakinan berbeda apakah kita akan mulai untuk membeci dan memusuhinya? Tidak siap berbeda terhadap suatu keyakinan menjadi masalah paling aneh bagi makhluk sekaliber manusia yang katanya pemikir handal. Keyakinan bukalah ruang sempit lalu kita terjebak didalamnya lalu takut mencari jalan keluar karena meruntuhkan eksistensi si pe"yakin".
Keyakinan yang original ataupun hasil warisan generasi berikut dapat menjadi belenggu kemampuan manusia memaknai eksistensinya sebagai makhluk yang berpikir analitis sekaligus reflektif. Membelenggu, adalah pilihan kata yang tidak menyenangkan jika dikenakan kepada manuisa. Seperti seorang budak yang terbelengu dibawah kehendak tuannya, yaitu keyakinan. Memang melalui keyakinan maka tata/order dapat ditegakkan dalam ikatan paling ekstrim yaitu fanatisme. Fanatisme hanya membutuhkan satu syaraat yaitu penundukkan total.
Kenyamanan dan keutungan ada pada sang pemegang tali kekang dari keyakinan yang terbangun. Ia dapat mengarahkan untuk hal baik maupun buruk. Mulai dari masalah paling memalukan yaitu mendapat himpunan dana dari para pengikut samapai memiliki massa mencari kekuasaan.
Namun bagi mereka yang telah masuk dalam ruang-ruang sempit "keyakinan" tanpa jedela nalar dan pintu nurani, tak ubahnya seperti para budak, mungkin lebih buruk lagi para zombie. Kehilangan nalar, rasa, dan eksistensi kemanusiaanya. Coba perhatikan keadaan ini: Saya membunuh karena orang berbeda dengan saya, parahnya perbedaan yang ada sebenarnya masih beerada di awang-awang sebagai sebuah produk "keyakinan". Dari dunia awang-awang bermuara pada eksekusi dalam realita dan itu sangat parah, yaitu pameran kebodohan dan kematian,
PADA AKHIRNYA FANATISME MENAWARKAN:. Manusia tidak lagi berfikir tetapi merasa befikir. Merasa cerdas tetapi bodoh, merasa memiliki ikatan pada kuasa kasih kehidupan tetapi pembunuh. Paradox konyol dari opera kebodohan atau si mayat hidup (baca zombie)
Keyakinan tidaklah salah jika dibangun dalam segenap eksistensi manusia, mengenakan kemanusiaan pada diri dan orang lain. Membuka ruang bagi kemampuan utamanya mengolah kemampuan berpikir analitis dan reflektif. Semoga keberadaan manusia karena kemampuan berpikir terbaiknya. salam
yakin akan tujuan hidup...yakin memiliki pasangan hidup...yakin bahwa cita-citanya akan tercapai...
yakin jika semesta ini tidak hanya manusia yang hidup dengan mengandalkan kepandaiannya tetapi ada makhluk lain di luar jagat raya yang memiliki kecerdasan. Atau keyakinan setelah kematian ada kehidupan atau adanya pencipta kehidupan.
Segala sesuatu yang bersumber dari keyakinan tetaplah sebuah keputusan individu yang menyakininya...jika ada orang lain yang memiliki keyakinan berbeda apakah kita akan mulai untuk membeci dan memusuhinya? Tidak siap berbeda terhadap suatu keyakinan menjadi masalah paling aneh bagi makhluk sekaliber manusia yang katanya pemikir handal. Keyakinan bukalah ruang sempit lalu kita terjebak didalamnya lalu takut mencari jalan keluar karena meruntuhkan eksistensi si pe"yakin".
Keyakinan yang original ataupun hasil warisan generasi berikut dapat menjadi belenggu kemampuan manusia memaknai eksistensinya sebagai makhluk yang berpikir analitis sekaligus reflektif. Membelenggu, adalah pilihan kata yang tidak menyenangkan jika dikenakan kepada manuisa. Seperti seorang budak yang terbelengu dibawah kehendak tuannya, yaitu keyakinan. Memang melalui keyakinan maka tata/order dapat ditegakkan dalam ikatan paling ekstrim yaitu fanatisme. Fanatisme hanya membutuhkan satu syaraat yaitu penundukkan total.
Kenyamanan dan keutungan ada pada sang pemegang tali kekang dari keyakinan yang terbangun. Ia dapat mengarahkan untuk hal baik maupun buruk. Mulai dari masalah paling memalukan yaitu mendapat himpunan dana dari para pengikut samapai memiliki massa mencari kekuasaan.
Namun bagi mereka yang telah masuk dalam ruang-ruang sempit "keyakinan" tanpa jedela nalar dan pintu nurani, tak ubahnya seperti para budak, mungkin lebih buruk lagi para zombie. Kehilangan nalar, rasa, dan eksistensi kemanusiaanya. Coba perhatikan keadaan ini: Saya membunuh karena orang berbeda dengan saya, parahnya perbedaan yang ada sebenarnya masih beerada di awang-awang sebagai sebuah produk "keyakinan". Dari dunia awang-awang bermuara pada eksekusi dalam realita dan itu sangat parah, yaitu pameran kebodohan dan kematian,
PADA AKHIRNYA FANATISME MENAWARKAN:. Manusia tidak lagi berfikir tetapi merasa befikir. Merasa cerdas tetapi bodoh, merasa memiliki ikatan pada kuasa kasih kehidupan tetapi pembunuh. Paradox konyol dari opera kebodohan atau si mayat hidup (baca zombie)
Keyakinan tidaklah salah jika dibangun dalam segenap eksistensi manusia, mengenakan kemanusiaan pada diri dan orang lain. Membuka ruang bagi kemampuan utamanya mengolah kemampuan berpikir analitis dan reflektif. Semoga keberadaan manusia karena kemampuan berpikir terbaiknya. salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar