Minggu, 21 Juli 2013

Could humans live without believing something?

Could humans live without believing something? ... Life without conviction ... for example:sure of the purpose of life ... sure have a life partner ... sure that his goal will be reached ...sure if the universe is not only humans who live off their versatility but there are other things outside the universe has intelligence. Or belief is there life after death or the creator of life.

  
Everything that comes from faith remains an individual decision that believe in it ... if there are other people who have different beliefs whether we will begin to hates and hostile? Not prepared differently to a belief be a problem for most odd caliber human beings that he thinker. Confidence narrow open space and we're stuck in it and find a way out because of fear of undermining the existence of the pe "sure".

  
Original beliefs or heritage outcomes following generation can be fetter the ability of human beings to make sense of existence as analytical thinking and reflective. Handcuff, is an unpleasant word choice when subjected to manuisa. Terbelengu like a slave under his master, namely confidence. It is through the belief system / bond order can be enforced in the most extreme fanaticism. Fanaticism is only one condition that requires total submission.

  
Leisure and profit there on the bridle holders of confidence built up. He can lead to good or bad thing. Starting from the most embarrassing problems that got funding from the followers of the set has a mass samapai seek power.

   
But for those who have entered the narrow spaces "faith" without  reason and conscience of the door, is like the slaves, perhaps even worse the zombies. Loss of reason, sense, and the existence of his humanity. Try to see the situation: I killed because people differ with me, severity differences beerada actually still in the clouds as a product "belief". The clouds of the world boils down to execution in reality and it is very severe, which exhibits ignorance and death,

   
Fanaticism OFFER AT THE END:. Humans no longer think but feel "thinking". Feel smart but stupid, feel a bond to the power of love life but a killer. Opera ridiculous paradox of ignorance or the undead (zombies read)

  
Confidence is not wrong if it is built in all of human existence, humanity impose on themselves and others. Open space for the ability to process primarily analytical and reflective thinking skills. Hopefully, because of the ability to think his best man. regards

Senin, 01 Juli 2013

Prulisme sejujurnya

  Mungkinkah manusia hidup tanpa meyakini sesuatu?...Hidup tanpa keyakinan...misalkan:
yakin akan tujuan hidup...yakin memiliki pasangan hidup...yakin bahwa cita-citanya akan tercapai...
yakin jika semesta ini tidak hanya manusia  yang hidup dengan mengandalkan kepandaiannya tetapi ada makhluk lain di luar jagat raya yang memiliki kecerdasan. Atau keyakinan setelah kematian ada kehidupan atau adanya pencipta kehidupan.
  Segala sesuatu yang bersumber dari keyakinan tetaplah sebuah keputusan individu yang menyakininya...jika ada orang lain yang memiliki keyakinan berbeda apakah kita akan mulai untuk membeci dan memusuhinya? Tidak siap berbeda terhadap suatu keyakinan menjadi masalah paling aneh bagi makhluk sekaliber manusia yang katanya pemikir handal. Keyakinan bukalah ruang sempit lalu kita terjebak didalamnya lalu takut mencari jalan keluar karena meruntuhkan eksistensi si pe"yakin".
  Keyakinan yang original ataupun hasil warisan generasi berikut dapat menjadi belenggu kemampuan manusia memaknai eksistensinya sebagai makhluk yang berpikir analitis sekaligus reflektif. Membelenggu, adalah pilihan kata yang tidak menyenangkan jika dikenakan kepada manuisa. Seperti seorang budak yang terbelengu dibawah kehendak tuannya, yaitu keyakinan. Memang melalui keyakinan maka tata/order dapat ditegakkan dalam ikatan paling ekstrim yaitu fanatisme. Fanatisme hanya membutuhkan satu syaraat yaitu penundukkan total.
  Kenyamanan dan keutungan ada pada sang pemegang tali kekang dari keyakinan yang terbangun. Ia dapat mengarahkan untuk hal baik maupun buruk. Mulai dari masalah paling memalukan yaitu mendapat himpunan dana dari para pengikut samapai memiliki massa mencari kekuasaan.
   Namun bagi mereka yang telah masuk dalam ruang-ruang sempit "keyakinan" tanpa jedela nalar dan pintu nurani, tak ubahnya seperti para budak, mungkin lebih buruk lagi para zombie. Kehilangan nalar, rasa, dan eksistensi kemanusiaanya. Coba perhatikan keadaan ini: Saya membunuh karena orang berbeda dengan saya, parahnya perbedaan yang ada sebenarnya masih beerada di awang-awang sebagai sebuah produk "keyakinan". Dari dunia awang-awang bermuara pada eksekusi dalam realita dan itu sangat parah, yaitu pameran kebodohan dan kematian,
   PADA AKHIRNYA FANATISME MENAWARKAN:. Manusia tidak lagi berfikir tetapi merasa befikir. Merasa cerdas tetapi bodoh, merasa memiliki ikatan pada kuasa kasih kehidupan tetapi pembunuh. Paradox konyol dari opera kebodohan atau si mayat hidup (baca zombie)
  Keyakinan tidaklah salah jika dibangun dalam segenap eksistensi manusia, mengenakan kemanusiaan pada diri dan orang lain. Membuka ruang bagi kemampuan utamanya mengolah kemampuan berpikir analitis dan reflektif. Semoga keberadaan manusia karena kemampuan berpikir terbaiknya. salam